Tampilkan postingan dengan label iptek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iptek. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 April 2009

Telkomsel Ingin Dongkrak Pengguna 3G Via iPhone

Surabaya (ANTARA News) - Operator selular, PT Telkomsel, menginginkan pelanggan layanan 3G-nya naik setelah perusahaan itu meluncurkan iPhone 3G pekan lalu.

Vice President Area Jawa Bali Telkomsel, Gilang Prasetya, kepada wartawan di Surabaya, Kamis, mengatakan, hingga akhir 2008 lalu, pengguna layanan 3G Telkomsel secara nasional sekitar 6,5 juta pelanggan dan dipastikan naik pada akhir Maret lalu.

"Layanan 3G makin diminati pelanggan, karena memiliki banyak kelebihan. Produk iPhone 3G yang kami luncurkan merupakan salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan pelanggan terhadap layanan multimedia yang lebih berkualitas," katanya.

Setelah diluncurkan pertama kali di Jakarta pada pekan lalu, produk yang memadukan kombinasi ponsel yang revolusioner, iPod berlayar lebar dan terobosan baru perangkat Internet berkulitas, kembali diluncurkan serentak di empat kota, yakni Surabaya, Bandung, Medan, dan Makassar mulai Jumat (3/4).

Produk yang sudah dipasarkan di lebih dari 70 negara itu, sengaja menggandeng Telkomsel untuk pemasaran di Indonesia, karena operator seluler ini memiliki jaringan 3G paling luas dibanding operator lainnya.

"Kalau operator tidak memiliki jaringan 3G luas, fungsi iPhone tidak akan maksimal," tambah Manager External Communications Telkomsel, Suryo Hadiyanto.

Saat ini jaringan Telkomsel telah melayani hingga ke pelosok daerah dan seluruh provinsi serta kabupaten di Indonesia. Bahkan jaringan 3G Telkomsel telah menjangkau lebih dari 140 kota.

Pada 2009 ini, operator seluler terbesar di dalam negeri itu telah mengalokasikan investasi sebesar 1,5 miliar dolar AS, termasuk untuk menghadirkan jaringan 3G terbaik.

Gilang Prasetya mengatakan optimistis dalam tiga bulan kedepan, penjualan produk tersebut bisa menembus angka 5.000 unit untuk wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Khusus wilayah Surabaya, sekitar 5.000 pelanggan sudah teregistrasi untuk mendapatkan produk tersebut.

"Banyak pengamat bilang saat ini sedang krisis global, tapi untuk kebutuhan yang tergolong gaya hidup tetap saja bertumbuh. Apalagi, di kota-kota yang masyarakatnya sudah memiliki sense of technology cukup tinggi," ujarnya.

Selasa, 31 Maret 2009

Cina Bantah Lakukan Mata-mata Komputer

Beijing (ANTARA News) - Cina secara tegas membantah melakukan mata-mata komputer seperti dituduhkan sejumlah pihak dan menyebut tuduhan itu kebohongan, kata pejabat tinggi Cina.

"Cina melakukan mata-mata komputer di dunia adalah bohong dan tuduhan itu merupakan upaya menodai Cina sebagai kekuatan raksasa di Asia," kata Jurubicara Kementerian Luar Negeri Cina Qin Gang dalam keterangan pers berkala di Beijing pada Selasa.

Dikatakannya, sejumlah pihak di luar Cina melakukan kebohongan dengan menyebutkan Cina melakukan mata-mata komputer.

Pihak tersebut, katanya, berupaya menodai Cina dengan sejumlah kebohongan tak berdasar.

Cina, katanya, bahkan selalu menentang berbagai bentuk tindak kejahatan di internet, termasuk di antaranya pembajakan ke komputer ke komputer lain.

"Sikap `perang dingin` diarahkan ke Beijing ketika dinyatakan bahwa kemajuan Cina sebagai kekuatan dunia merupakan ancaman antarbangsa," kata Qin Gang tegas.

Ia menyatakan kebohongan itu bukan yang pertama diarahkan ke Cina, yang selama ini dituduh sebagai sumber serangan komputer.

Beberapa peneliti Kanada membongkar gerakan luas mata-mata elektronik, yang menyusup ke komputer dan mencuri dokumen dari kantor pemerintah serta swasta di seluruh dunia, termasuk dokumen milik Dalai Lama.

Dalam laporan kepada suratkabar, kelompok dari Munk Center for International Studies di Toronto menyatakan sedikit-dikitnya 1.295 komputer di 103 negara dalam waktu kurang dari dua tahun oleh sistem mata-mata, yang disebutnya GhostNet.

Kedutaanbesar, kementerian luar negeri, kantor pemerintah dan pusat pengasingan pemimpin Tibet, Dalai Lama, di India, Brussels, London dan New York termasuk di antara yang diterobos, kata peneliti tersebut, yang menjejaki kegiatan mata-mata komputer beberapa waktu lalu, sebagaimana dilaporkan "New York Times" pada Sabtu (28/3).

Peneliti tersebut menyimpulkan bahwa komputer secara eksklusif berpusat di Cina "bertanggung jawab atas penerobosan itu", meskipun mereka tak mengatakan pemerintah Cina terlibat dalam jaringan tersebut, yang mereka gambarkan tetap bergiat.

Sistem tersebut dipusatkan pada pemerintah di negara Asia selatan dan Asia tenggara serta di kantor Dalai Lama, kata peneliti itu, yang menambahkan bahwa semua komputer di Kedutaanbesar India di Washington juga disusupi dan satu komputer NATO dipantau. (*)